My Profile

PROFIL :

Iwan  Lalamentik

 Agustino Steve Lalamentik, lahir di Desa Lembean-Minahasa Utara pada tanggal 21 Agustus 1971. Pria yang biasa disapa dengan nama Iwan ini adalah putra tuggal dari pasangan suami-isteri Frederik W. Lalamentik dan Budihastuti E. Wullur. Latar belakang dari keluarga yang sederhana, membuat pria alumnus STF Seminari Pineleng tahun 1997 ini terbiasa untuk hidup apa adanya. Hal ini nampak dari ketertarikannya untuk hidup dan berkarya di daerah diaspora. Menjadi Pegawai Negeri Sipil, yang saat ini menjadi idaman kebanyakan orang, nampaknya kurang menarik bagi pria ini. “Memang sombong kedengarannya,  kalu saya tidak ingin menjadi Pegawai Negeri Sipil, tapi sampai saat ini saya belum tertarik untuk menjadi PNS. Mungkin nanti ditahun-tahun yang akan datang,” ujarnya seraya tersenyum.

Iwan menikah dengan Jeanne Bolang, gadis asal desa Karegesan-Minahasa Utara. Setelah 6 tahun bergumul untuk mendapatkan buah cinta kasih yang belum kunjung datang, akhirnya Iwan dan Nane diberkati Tuhan dengan 2 orang anak laki-laki Fountain (sekarang 5 tahun) dan Mario  (sekarang 4 tahun).

Panggilan untuk menjadi Keluarga Misioner

Pada tahun 1995, Iwan menjalani masa KKN-nya di paroki “Kristus Raja” Sulubombong yang pada waktu itu masih berstatus paroki persiapan (praparoki). Saat itulah dia bertemu dengan Pastor Marianus Toiyo Pr. yang banyak memberikannya inspirasi untuk hidup misioner sebagai keluarga.

Pada tahun 1997, setelah menikah, Iwan dan isterinya masuk dalam kelompok PHBK (Persekutuan Hidup Bakti Keluarga) yang dibentuk oleh pastor Marianus. Dalam kelompok ini Iwan dan Nane semakin menyadari panggilan mereka untuk menjadi keluarga Misioner. Akhirnya, mereka memutuskan untuk  mengabdikan diri dan berkarya di paroki “Kristus Raja” Sulubombong yang pada saat itu merupakan praparoki yang masih belum berkembang.

Karya dan Pengabdian

Kehidupan yang sedikit terisolasi, pendidikan yang masih rendah serta tingkat kesehatan yang kurang diperhatikan, membuat praparoki “Kristus Raja” Sulubombong  di satu pihak sangat memprihatinkan tapi juga dipihak lain sangat menantang,. Tantangan ini mendorong Iwan untuk mewujudnyatakan semangat pelayanannya sebagai katekis. Selain sebagai katekis yang membantu pastor paroki dalam reksa pastoral, Iwan juga dipercayakan untuk menjadi Kepala SMP Katolik “Pelita” Sulubombong sejak tahun 1997. “Salah satu pintu dari suatu perubahan adalah pendidikan. Karena itu, jika ingin merubah masa depan paroki kita, kita harus menyekolahkan anak-anak kita,” ujar pria yang suka bercanda ini. Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana yang ada Iwan berusaha untuk memaksimalkan pendidikan di sekolah yang dipimpinnya. Berkat perjuangan Pastor Benediktus Pangkey MSC (mantan pastor paroki), sekarang ini sudah ada banyak anak lulusan SMP Katolik “Pelita” Sulubombong yang bisa melanjutkan pendidikannya di SMA bahkan di Perguruan Tinggi. Kini sudah beberapa orang yang menyelesaikan studinya di PGSD Don Bosco di Tomohon, IPI filial Malang di Tomohon dan di Unima di Manado.

Ketika Iwan pertama kali datang di Sulubombong pada tahun 1995, belum ada seorangpun asal Sulubombong yang menyelesaikan studinya setingkat, D1, D2, D3 apalagi S1. Tapi sekarang ini, sudah ada lebih dari 10 orang yang menyandang gelar Sarjanan Pendidikan. “Kemajuan yang terjadi di Sulubombong sekarang ini bukan karena saya, tapi karena orang Sulubombong sendiri mau membuat perubahan dalam hidup mereka,” ungkap pria yang pernah menjadi asisten dosen di Unika De La Salles, tapi lebih memilih untuk berkarya di Sulawesi Tengah ini.

Katekis yang Sejati

Menurut Iwan, Di satu pihak, seorang katekis yang sejati tak perlu repot-repot mencari lapangan pekerjaan. Lapangan pekerjaan untuk katekis ada di mana-mana (Dimana ada umat di situ ada pekerjaan untuk katekis). Bahkan katekis harus menciptakan lapangan pekerjaan sendiri. Yang penting katekis harus  mengutamakan siapa yang dilayani dan bukan apa yang akan didapat dari pelayannya. Di pihak lain, para pastor paroki diharapkan bisa semakin memberdayakan para katekis yang ada di parokinya, supaya para katekis tidak hanya semata-mata berlomba untuk menjadi Pegawai Negeri Sipil. Seorang katekis ada dari tengah-tengah umat dan ada untuk melayani umat. Itulah pesan yang diberikan oleh Katekis yang sedang berusaha bersama dengan Pastor Herry Zet Purasa MSC, untuk mewujudkan PAROKI “KRISTUS RAJA” SULUBOMBONG YANG MANDIRI.

Sejak bulan Juli 2009, Iwan bersama keluarganya kembali ke Manado. “Ini supaya umat Sulubombong bisa semakin mandiri. Mengapa perlu guru dari luar Sulubombong, kalu sekarang sudah banyak orang Sulubombong yang menjadi Sarjana dan yang memperoleh Diploma?” Beliau menambahkan lagi, “Sebagian besar dari mereka menjadi guru… Saya sudah boleh pensiun dini” Ujarnya sambil tersenum. Di Manado Iwan menjadi salah satu staf di Komisi Kateketik Keuskupan Manado sampai sekarang.

Tinggalkan komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: